Humor atau bercanda adalah bumbu
komunikasi yang tak pernah lepas dalam pergaulan sehari-hari, saking
akrabnya hal tersebut sudah menjadi profesi seseorang. Di samping dapat
menghibur, mencairkan suasana, menghilangkan ketegangan, dan meredakan
amarah, tak jarang di dalam kelakar muncul benih persahabatan dan
persaudaraan.
Pernah suatu ketika Sufyan bin Uyainah
ditanya apakah canda itu termasuk perbuatan tercela? Ia menjawab tidak,
”Bahkan, termasuk sunah bagi yang dapat mengondisikannya sesuai dengan
aturan.”
Dalam Alquran surat Annajm [53] ayat 43,
dijelaskan bahwasanya tertawa dan menangis adalah fitrah yang Allah SWT
anugerahkan pada manusia. Rasulullah SAW pun meyebutkan bahwa membuat
orang lain senang dapat disebut sebagai kebajikan, ”Senyummu untuk
saudaramu adalah kebajikan (sedekah).” (HR Imam Ahmad).
Untuk menciptakan suasana humoris
hendaknya seseorang menjauhi perbuatan yang tidak terpuji layaknya
bicara kotor, dusta, mengolok-ngolok, dan merendahkan sesama hanya demi
mendapatkan tawa dari orang lain. Nabi SAW bersabda, ”Celakalah orang
yang berbicara lalu mengarang cerita dusta agar orang lain tertawa.” (HR
Abu Dawud).
Selain perbuatan tersebut mengandung cela dan dosa, Rasulullah sendiri
tidak pernah berkelakar dengan para sahabat, kecuali di dalamnya
mengandung kebenaran dan fakta. Hal tersebut dapat kita jumpai dalam
hadis Abu Hurairah RA bahwa para sahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah,
sesungguhnya engkau telah mencandai kami.” Rasulullah SAW menjawab,
”Sesungguhnya tidaklah aku berbicara, kecuali yang benar.” (HR
Tirmidzi).
Berikut ini akan saya tuliskan berbagai candaan dan humor dari junjungan kita Nabi Agung Muhammad Sholallohu Alaihi Wassalam:
1.Naik Anak Onta
Dikisahkan dalam sebuah riwayat, ada
seorang laki-laki meminta pada Rasulullah agar membawanya di atas
kendaraan. Kemudian, Rasulullah berkata, ”Aku akan membawamu di atas
anak unta.”
Orang tadi bingung karena ia hanya
melihat seekor unta dewasa, bukan anak unta. Kemudian, Rasulullah
berkata, ”Bukankah yang melahirkan anak unta itu seekor unta juga?” (HR
Abu Dawud dan Tirmidzi).
2. Kurma dan Sakit Mata
Suatu saat sahabat Ali bin Abi Tholib sakit mata dan duduk bersama Rosululloh.
Kemudian datang sahabat yang lain membawa kurma untuk mereka santap bersama-sama.
Kemudian Mereka asyik makan kurma. Ketika makan Rosululloh berkata kepada Ali.
“Mengapa kamu makan kurma sedang matamu sakit?”
Kemudian Ali spontan menjawab “Ya rasulullah saya makan dengan sebelah mata saya yang masih sehat?” mendengar jawaban Ali Rosululloh pun tersenyum lebar.
3.Rosululloh dan Nenek Nenek
Suatu hari datanglah seorang nenek-nenek menemui Rosululloh dan bertanya:
"Ya Rosululloh, apakah saya dapat masuk kedalam surga?" Rosululloh pun menjawab :"Maaf Nek, nenek nenek tidak akan masuk surga". Mendengar jawaban tersebut, nenek itupun menangis. Ia pun berfikir dan menerka nerka, mungkin dengan usianya yang tua tersebut pastilah sudah banyak dosa yang ia lakukan. Namun, ternyata Rosululloh belum selesai bicara. Sambil tersenyum, beliau mengatakan :"Janganlah bersedih Nek, memang nenek nenek tidaklah masuk surga namun nenek akan menjadi muda kembali saat memasuki surga tersebut". Mendengar jawaban Rosululloh tersebut, nenek itu pun tersenyum gembira. (Riwayat At Tirmidzi, hadits hasan)
4. Umar Dan Segenggam Kurma
Suatu hari Rosululloh sedang makan buah kurma sambil duduk duduk bersama dengan para sahabatnya. Tiba tiba muncul niat 'iseng' dalam diri sahabat Umar Ibnul Khattab. Biji kurma yang menumpuk di depannya (merupakan biji dari kurma yang telah dimakan olek Umar) diambil oleh Umar lalu di letakkan didepan Rosululloh. Sambil menunjuk kearah tumpukan biji kurma di depan Rosululloh, Umar pun berkata: "Lihatlah, betapa Rosululloh makan kurma banyak sekali". Mendengar perkataan Umar tersebut, Nabi tidaklah marah. Beliau malah tersenyum dan dengan diplomatis menjawab :"Itu belum seberapa, lihatlah Umar. Bahkan biji biji kurmanya pun ia makan sampai tak tersisa sedikitpun". Umar pun tersenyum malu.
5. Anak Unta
Seseorang
sahabat mendatangi Rasulullah SAw, dan dia meminta agar Rasulullah SAW
membantunya mencari unta untuk memindahkan barang-barangnya. Rasulullah
berkata: “Kalau begitu kamu pindahkan barang-barangmu itu ke anak unta
di seberang sana”.
Sahabat
bingung bagaimana mungkin seekor anak unta dapat memikul beban yang
berat. “Ya Rasulullah, apakah tidak ada unta dewasa yang sekiranya
sanggup memikul barang-barang ku ini?”
Rasulullah
menjawab, “Aku tidak bilang anak unta itu masih kecil, yang jelas dia
adalah anak unta. Tidak mungkin seekor anak unta lahir dari ibu selain
unta” Sahabat tersenyum dan dia-pun mengerti canda Rasulullah. (Riwayat
Imam Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi. Sanad sahih)
6. Rosululloh dan Zahir
Anas ibn Malik meriwayatkan hadis tentang sahabat bertubuh cebol bernama
Zahir ibn Haram. Zahir tinggal di desa, bukan di kota bersama
Rasulullah dan sahabat lainnya. Zahir rajin mengunjungi Rasulullah dan
selalu membawakan buah tangan dari desanya. Sebaliknya, jika Zahir
hendak kembali, Rasulullah selalu membekalinya dengan oleh-oleh. Karena
proses interaksi yang baik ini, Rasulullah pernah berkata, “Zahir adalah
orang desa bagi kita, dan kita orang kota bagi Zahir”.
Pernah terjadi kisah menarik antara Rasulullah dan Zahir, tepatnya kisah humor. Suatu hari Zahir sedang berdagang di pasar berteriak menjajakan barang dagangannya. Ketika itu Rasulullah datang dari arah belakang Zahir. Dengan sigap Rasulullah memeluk dan mengangkat tubuh Zahir dari belakang. Zahir tidak tahu siapa orang yang “main-main” dengannya. Ia berontak sambil berusaha melihat ke belakang. Ketika matanya menangkap wajah Rasulullah, ia justru mempererat pelukannya dengan merangkulkan tangan ke belakang tubuh Rasulullah. Kini Rasulullah yang kewalahan karena tidak dapat melepaskan dekapan Zahir. Tidak habis akal, Rasulullah teriak, “Budak, budak. Siapa yang mau beli budak?!”
Tersinggungkah Zahir dengan canda Rasulullah? Tentu tidak. Zahir malah berkata, “Aku tidak akan laku, wahai Nabiyullah”. “Kalau pun aku benar-benar budak, siapa yang mau membeli budak cebol seperti aku”. Demikian kira-kira makna ucapan Zahir. Mendengar ucapannya, Rasulullah lantas menghiburnya dengan berkata, “Tapi engkau mahal di hadapan Allah”. (Shahîh Ibnu Hibban).
Pernah terjadi kisah menarik antara Rasulullah dan Zahir, tepatnya kisah humor. Suatu hari Zahir sedang berdagang di pasar berteriak menjajakan barang dagangannya. Ketika itu Rasulullah datang dari arah belakang Zahir. Dengan sigap Rasulullah memeluk dan mengangkat tubuh Zahir dari belakang. Zahir tidak tahu siapa orang yang “main-main” dengannya. Ia berontak sambil berusaha melihat ke belakang. Ketika matanya menangkap wajah Rasulullah, ia justru mempererat pelukannya dengan merangkulkan tangan ke belakang tubuh Rasulullah. Kini Rasulullah yang kewalahan karena tidak dapat melepaskan dekapan Zahir. Tidak habis akal, Rasulullah teriak, “Budak, budak. Siapa yang mau beli budak?!”
Tersinggungkah Zahir dengan canda Rasulullah? Tentu tidak. Zahir malah berkata, “Aku tidak akan laku, wahai Nabiyullah”. “Kalau pun aku benar-benar budak, siapa yang mau membeli budak cebol seperti aku”. Demikian kira-kira makna ucapan Zahir. Mendengar ucapannya, Rasulullah lantas menghiburnya dengan berkata, “Tapi engkau mahal di hadapan Allah”. (Shahîh Ibnu Hibban).
7. Lomba Lari Ala Rosululloh
Aisyah RA
berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan, saat
itu tubuhku masih ramping. Beliau lalu berkata kepada para sahabat
beliau, ”Silakan kalian berjalan duluan!”
Para
sahabat pun berjalan duluan semua, kemudian beliau berkata kepadaku,
“Marilah kita berlomba.” Aku pun menyambut ajakan beliau dan ternyata
aku dapat mendahului beliau dalam berlari.
Beberapa
waktu setelah kejadian itu dalam sebuah riwayat disebutkan:”Beliau lama
tidak mengajakku bepergian sampai tubuhku gemuk dan aku lupa akan
kejadian itu.”-suatu ketika aku bepergian lagi bersama beliau.
Beliau pun
berkata kepada para sahabatnya. “Silakan kalian berjalan duluan.” Para
sahabat pun kemudian berjalan lebih dulu. kemudian beliau berkata
kepadaku, “Marilah kita berlomba.”
Saat itu
aku sudah lupa terhadap kemenanganku pada waktu yang lalu dan kini
badanku sudah gemuk. Aku berkata, “Bagaimana aku dapat mendahului
engkau, wahai Rasulullah, sedangkan keadaanku seperti ini?” Beliau
berkata, “Marilah kita mulai.” Aku pun melayani ajakan berlomba dan
ternyata beliau mendahului aku. Beliau tertawa seraya berkata, ” Ini
untuk menebus kekalahanku dalam lomba yang dulu.” (HR Ahmad dan Abi
Dawud)
8. Humor Rosululloh bersama 'Aisyah
Rasulullah
SAW juga pernah bersabda kepada ‘Asiyah, “Aku tahu saat kamu senang
kepadaku dan saat kamu marah kepadaku.” Aisyah bertanya, “Dari mana
engkau mengetahuinya?”
Beliau menjawab, ” Kalau engkau sedang senang kepadaku, engkau akan mengatakan dalam sumpahmu “Tidak demi Tuhan Muhammad”
Akan
tetapi jika engkau sedang marah, engkau akan bersumpah, “Tidak demi
Tuhan Ibrahim!”. Aisyah pun menjawab, “Benar, tapi demi Allah, wahai
Rasulullah, aku tidak akan meninggalkan, kecuali namamu saja” (HR
Bukhari dan Muslim)
1 komentar:
maaf, tolong background tulisan di atas itu diganti yang putih saja ya.. kalau kayak yang sekarang, susah dibaca bro..Tks.
Posting Komentar